Hinata di Kampung Konoha

    Cuara hari ini begitu cerah. Tetesan embun di dahan-dahan pohon terlihat mulai mengering. Nampak seekor belalang hinggap berterbangan dari satu daun ke daun lainnya, entah apa yang dia rasakan sewaktu itu, mencari daun untuk dimakannyakah atau mencari daun yang kuat untuk dijadikan pijakan dalam menahan beban tubuhnya. Seperti biasanya, mereka bersama Hinata berkendara menuju ke kampung kecil. Sebuah kampung yang orang-orangnya terlihat sangat murah senyum. Kampung dengan segala keterbatasannya baik dari segi akses dan segala hal tentang kehidupan. Satu yang tidak mengecewakan bahwa kampung ini tetap terlihat nyaman dengan lirikan mata tulus yang menyambut mereka saat menginjakkan kaki mereka ditanahnya.

    Ah, kau akan tau betapa bahagianya saat kau berada di kampung itu. Bukan tentang apa yang terlihat, namun terlebih kepada apa yang hatimu rasakan saat merasakan kehangatan yang diberikan oleh orang asing padamu. Senyum yang merekah dengan warna kemerahan dari gigi yang awalnya berwarna putih itu serta bahasa asing yang membuatmu merasa bahwa kau hanyalah segelintir kecil makhluk yang hidup dengan bahasa mu sendiri di dunia ini. Jadi jika suatu saat kau merasa tidak kuasa atas apa yang kau miliki dalam dirimu, yakinlah bahwa kau dan mereka hanyalah segelintir manusia yang sudah barang tentu akan merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan saat ini.  

    Berjalan beriring. Riuh gonggongan anjing kampung terdengar sangat antusias melihat mereka yang berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya. Nampak wajah-wajah yang sendu itu terlihat penuh dengan harap. Berharap kedatangan mereka membawa keadilan dan angin segar untuk kampung itu. Mereka sebut kampung itu dengan Kampung Konoha. Terinspirasi dari serial Naruto yang selalu mereka tonton berulang saat melarikan diri dari penatnya aktivitas mereka saat menjadi seseorang yang lain. Ya, demikian yang Hinata rasakan, tepat seperti apa yang mereka rasakan juga di saat itu. Hinata yang masih baru, hanya bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari mereka yang telah lama mengecap hiruk pikuk kehidupan yang terjadi. Bercengkrama dengan diselingi wajah antusias dan serius membahas dan melompat dari satu topik ke topik lainnya.

    Tidak terasa sang waktu berlalu dengan tanpa disadari. Mereka telah selesai mengunjungi desa Konoha itu. Dan pada akhirnya merekapun berpamitan dan mengucapkan jumpa jika memang sang waktu mengijinkan. Sungguh, banyak hal yang Hinata dapatkan dalam perjalanan singkat itu. Hinata bisa belajar bahwa selagi hinata masih muda sudah seharusnya mulai belajar mengatur keuangan, menabung dan berinvestasi pada logam mulia ataupun sejenisnya yang bisa dipergunakan dimasa mendesak; belajar tentang memahami perasaan orang lain, bahwa masing-masing orang memiliki cerita ataupun kisah yang memilukan yang berhasil membuat sikap dan karakternya berubah; belajar bahwa pada akhrinya di dunia ini tak ada sesuatupun yang abadi karena semua yang dimiliki hanyalah titipan Nya yang pada suatu waktu akan diambil kembali; belajar bahwa hidup ini tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan; belajar mensyukuri apa yang kita miliki baik materi yang sulit untuk diperoleh, orang terkasih yang sangat penting dalam mengisi kekosongan hati hingga mensyukuri keberadaan teman yang dengan tulus mengulurkan tangannya membantu kita saat sedang dalam kesusahan. Sampai disini Hinata banyak belajar dari kisah yang mereka jalani, memang benar bahwa hidup itu sebuah pola. Pola yang terus berjalan dengan rentetan kisah yang saling mengait satu dan lainnya. Setiap orang punya kisahnya masing-masing, terlepas kisah yang ada sedikit mirip ternyata akhir dari kisah yang ada memang tidak sama. Kenapa, karena masing-masing orang menyikapi masalah yang ada dengan sikap yang tidak sama.


    

Komentar