Hari ini aku bangun terlambat.
Entahlah mimpi apa yang menimpaku semalam hingga untuk bangunpun begitu sulit
untuk ku lakukan. Rupanya sang surya telah berhasil memaksaku keluar dari zona
nyamanku. Sinarnya yang lembut dan kuat berhasil membuat kedua pelupuk mataku
merasakan hawa keramahannya di pagi yang cerah ini. Dewa alarm membuatku
tersadar bahwa hari ini bukanlah hari libur sekolah, bahwa hari ini adalah hari
dan jam dimana aku sudah seharusnya berada di kelas, tertawa dan bercerita
tentang pohon keramat yang berada dibelakang sekolahku. Seperti dikejar
binatang buas, aku berlari kesana kemari mencari perlengkapan alat tulis dan
bersiap ke sekolah. Meskipun sudah sangat terlambat, tak kubiarkan pelajaran
hari ini menyebabkan nilaiku menjauh dan melambaikan tangannya padaku. Jleebbb,
tersungkur dan terjatuh, kotor dan sobek. Beginilah buah dari ketergesaan yang
mengakibatkan rok ku menjadi sedih karena ulahku. Lari dan terus berlari
memanggil bang Ojek agar menghampiri dan membawa ku menjauh dari rumahku.
‘Tumben neng.?”
“Salah minum obat bang, yang
cepat ya! Saya sudah terlambat.” Pintaku sambil menaiki motor matic keluaran
tahun 80-an yang dimodiikasi dengan wajah Micky Mouse di depan persenel
motornya. Tanpa pikir panjang, bang ojek langsung menggas motornya sambil
mengeluarkan siulan nyaringnya, terdengar irama lagu Patience dari grup
legendaries Guns N Roses saat itu membuat ku lupa sesaat bahwa aku sedang
diburu waktu.
Tak perlu waktu lama bagi bang
Ojek mengantarku sampai ke sekolah. Setibanya di sekolah, pintu gerbang telah
terkunci dengan rapat. Nampak penjaga sekolah sedang sibuk berjalan membawa
setumpuk kertas ujian menuju ke ruangan guru. Sepertinya ujian akan segera di
mulai. “Ssst..ssst.. hey kamu, kesini,
ayo lewat sini!” Lirih suara yang kudengar berasal dari pinggir tembok sekolah.
Rupanya itu Aisyah, si ratu terlambat yang paling terkenal seantero sekolah.
Tampilannya yang santai dengan warna rambut pirangnya semakin menegaskan bahwa
ia adalah salah seorang siswi yang modis dan popular dikalangan para pelajar
disekolah. Aku tak menyangka hari ini akan disapa olehnya, padahal isu yang ku
dengar ia bukanlah tipikal siswi yang ramah dengan orang baru seperti diriku.
Tentu saja aku berlari mengikutinya dari belakang. Kurasa ini satu-satunya
jalan agar aku bisa masuk dengan aman kedalam sekolah. Setapak demi setapak, ku
ikuti langkah jejak kakinya, lumpur yang ada di telapak sepatunya membuat jejak
kakinya semakin terlihat jelas diatas gundukan tanah.
Di pertengahan jalan, aku baru
menyadari bahwa setelah sekian lama mengenyam pendidikan di sekolah ini,
trnyata ada satu jalan masuk yang belum pernah ku jamah di sekolah ini. Jalan
itu berada disamping gubuk kecil yang diselimuti oleh ribuan semak belukar di
seluruh bagian temboknya. Pintunya yang usang dengan lubang yang cukup besar
berhasil menaikkan minatku untuk melewatinya. Dengan tubuh kami berdua yang lumayan
kecil dan kurus tidak menjadikan melewati jalan itu sulit bagi kami berdua.
Benar saja, kami berhasil melewati jalan itu dengan sangat mudah.
Riuh suara anak-anak sedang
membahas soal ujian, mulai terdengar jelas di telingaku. Spontan aku berlari
melihat guru memasuki kelasku. Seperti kacang yang lupa pada si kulit, mungkin
itu ungkapan yang cocok disematkan padaku yang tidak tau berterimakasih kepada
si Aisyah karena telah berhasil membawaku masuk ke dalam sekolah. Ahh, sudahlah.
Aku rasa dia mengerti kondisiku saat itu. Setelah menyapa guru akhirnya akupun
duduk dan mulai mengerjakan soal-soal ujian yang ada.
Bel istiraht telah berbunyi.
Suasana ujian yang tadinya sunyi dan hanya terdengar suara jangkrik seketika
itu juga musnah ditelan luapan suara para murid yang berbincang-bincang
dipelataran ruang kelas. Puas memperhatikan teman-teman disekilingku,
pandanganku terpusat pada sosok siswi yang sedang asik bercerita di pojok
kelas. Dia Rahma, sahabatku. Anak misterius dan kalem yang paling diidolakan oleh
anak IPS. Dikisaran penghuni kelas IPA, aku yakin tidak terlekat sama skali
kesan anak IPA pada dirinya. Gaya berbusananya yang urak-urakan dan tampil apa
adanya membuat ia terlihat sangat keren dimata anak-anak IPA. Aku bangkit dari
bangku ku dan mulai untuk menyapanya. Sepertinya kehadiran ku di sekitar mereka
membuat mereka tidak nyaman untuk membagi percakapannya denganku. Benar saja,
beberapa saat kemudian mereka berbaur pergi meninggalkanku sendirian di pojok
kelas. Ntahlah, apakah ini imbas dari kesalahan yang tak ku tahui sehingga
mereka kompak menghindariku ataukah hanya egoku saja yang merasa bahwa saat itu
aku sedang dikucilkan oleh sahabatku.
Di bawah pohon cemara, ku
tengadahkan kepalaku melihat sang awan yang berpisah dari kelompoknya. Akankah
ia sedang dikucilkan juga oleh teman-temannya sama seperti diriku atau sedang
menyendirikah dirinya dari keramaian?. Angan-anganku seketika sirna saat
mendengar guru BK memanggil-manggil namaku. Ah, tak seperti biasanya beliau
tertarik padaku. Ini adalah perdana dalam hidupku dipanggil oleh beliau.
Spontan aku berlari menghampiri beliau. Dimintanya aku untuk pergi bersamanya
menuju ruang bimbingan konseling. Sedang menang lotere kah diriku atau justru
sebaliknya. Sepengetahuanku hanya siswa-siswi yang bermasalahlah yang akan
berhadapan dengan dengan beliau. Kegarangan beliau sudah sangat mahsyur
diantara para pelajar nakal dan bandel di sekolah. Firasatku saat itupun buruk,
jangan-jangan aku dipanggil karena terlambat datang sekolah ataukah karena
masalah lainnya. Entahlah, pertanyaan terus datang silih berganti dalam
benakku. Pasrah, mungkin itu kata yang paling tepat kuucapkan dalam hatiku agar
bisa meminimalisir betapa tegangnya aku saat harus berurusan dengan beliau.
Setibanya di ruang BK, kudapati Aisyah sedang duduk dibawah tirai jendela. Matanya yang merah memandangiku dari
kejauhan. Segera ia membasuh wajahnya yang dipenuhi dengan butiran air mata dan
bangun berjalan menghampiriku.
“Hay, kita sama-sama terlambat
pagi ini. Sepertinya kita ditakdirkan untuk menjadi teman baik mulai
sekarang!”. Ungkapnya sambil menepuk-nepuk pundakku dengan perlahan. Aku hanya
bisa tersenyum mendengar ungkapan ramahnya. Melihat senyumnya yang begitu tulus
makin membuatku ragu untuk mengacuhkan dan menolak ajakan pertemanan darinya.
Akhirnya guru BK mempersilahkan kami berdua untuk duduk. Seperti dugaan ku
semula. ternyata memang kami dipanggil untuk diberikan sanksi karena terlambat
pagi ini. Rupanya kedatangan kami pagi itu diketahui oleh seorang siswi dan
segera dilaporkannya kepada penjaga sekolah. Tapi ya sudahlah, semua telah
terjadi. Tak penting bagiku untuk mencari tau siapa siswi yang melaporkan kami,
setidaknya ini menjadi salah satu sanksi yang memang harus kuhadapi karena
diakibatkan dari keteledoranku sendiri.
Tak butuh waktu lama bagi kami
berdua untuk akrab satu sama lain. Pribadi Aisyah yang supel dan ceria membuatku
sudah tidak sungkan lagi untuk ikut tertawa bersamanya. Sepanjang jam istirahat
kami harus membersihkan toilet yang letaknya di ujung koridor sekolah. Toilet
yang biasanya kuhindari karena terkesan angker itu kini olehnya disulap menjadi
tempat karaoke yang sangat bising. Sepanjang jam istirahat ia hanya bernyanyi
dan tertawa sambil menggangguku yang sibuk membersihkan westafel. Aku hanya
bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah konyol Aisyah saat itu.
Sesekali aku ikut tengglam dalam lantunan suara seraknya yang terdengar merdu. Namun,
di lain sisi aku sedikit khawatir akan terkena pengaruh buruk darinya. Kesan
siswi pembuat onar yang melekat pada dirinya sepertinya sudah tertanam jelas
didalam ingatanku. Meskipun begitu, aku turut bahagia karena yang bersamaku itu
adalah si Aisyah. Ku pikir mungkin akan hambar hari ini jika aku harus
mengerjakan pekerjaan ini dengan orang lain. Kebersamaan kami saat itu terasa
sangat lama, Waktu seakan sedang memihak kami dikala itu. Sampai akhirnya
detik-detik jam istirahat tanpa terasa sudah mulai memudar tanpa kami sadari.
Sepertinya kami telah tenggelam cukup dalam dalam keseruan kami dikala itu.
Bel jam masuk kelaspun
berbunyi. Nampak Aisyah terlihat sedih saat tau sudah saatnya ia berhenti untuk
bernyanyi. Kurasakan hal yang sama dengannya. Diambilnya ember biru di lantai
sambil berjalan menuju pintu keluar toilet.
“Hey, sampai jumpa sebentar!”.
Begitu ucapnya sambil terus melangkah menjauh dari depan pintu toilet. Sesekali
ia menoleh wajahnya kepadaku sambil tersenyum dan membuat pose-pose lucu
didepan anak-anak yang lain. Itulah Aisyah, ia sangat ekspresif dan ceria. Tak
selah jikalau ia dijuluki si pembuat onar, karena memang sejatinya ia adalah
tipikal siswi yang akan melakukan apapun hal-hal yang ia sukai. Disaat yang
sama, akupun mulai berjalan masuk menuju kelasku.
Pertemanan ku dengan Aisyah
rupanya telah tersebar ke seantero sekolah. Ini tak bisa dihindari karena
memang gerak-geriknya selalu diperhatikan oleh para penggemarnya disekolah. Hal
ini juga terdengar oleh Rahma. Beberapa saat setelah kedatanganku, Rahma dan
teman-teman berkumpul di belakangku.
“Iya, begitulah sahabat jaman
sekarang, Bosan dengan sahabat ini, sekarang malah nyari sahabat yang kayak
gitu. Numpang popular tuh!”. Ucap Rahma dengan nada nyinyir yang ditujukannya
padaku. Rahma dan Aisyah dulunya adalah sahabat dekat, tapi entah mengapa
persahabatan mereka berakhir ketika mereka mulai memasuki bangku SMA. Mendengar
ucapan Rahma, aku hanya bisa terdiam dibangku ku. Aku sadar saat itu aku memang
mulai akrab dengan Aisyah. Aku tak kuasa untuk bermuka dua dihadapan mereka. Jadi
kuputuskan untuk tetap diam mendengar ejekan yang mereka lontarkan padaku.
Berulang kali ku coba untuk mengajaknya berbicara denganku, berkali-kali juga
ia mengacuhkan ku Semenjak saat itu, rahma mulai menjauh dariku. Perlahan demi
perlahan, pelan dan pasti ia benar-benar mulai menghilang dari penglihatanku..
Ku pikir sepertinya Rahma sudah benar-benar berniat melupakanku untuk
selamanya.
Di akhir jam pelajaran Aisyah
datang menghampiriku, nampaknya Rahma sedikit terganggu melihat kehadiran Aisyah
disekelilingku. Aisyah mengajakku untuk berkeliling kota sepulang sekolah.
Kupikir itu bukanlah ide yang buruk mengingat besok adalah hari libur. Jadi,
mungkin dihari ini aku bisa bersenang-senang dan menghabiskan waktu luangku
dengan Aisyah.
Sepulang sekolah kamipun
berangkat bersama. Dengan mengendarai skuter matic miliknya, kami mulai untuk
menjamah jalanan kota tua. Satu hal yang membuatku khawatir, rupanya Aisyah belum
mahir dalam mengendarai sepeda motor, jadi disaat-saat tertentu aku rasa
sepertinya ia akan menerobos dan membawa kami masuk kedalam kubangan got
yang ada di sepanjang jalan Ahmad Dahlan. Bagaimanapun, itu hanyalah anganku
belaka, angan-angan yang yang hanya terjadi di dalam pikiranku semata. Di
sepanjang jalan, ia terus berbicara padaku. Berbicara tentang adiknya yang
super jahil, tentang kedua orang tuanya yang sangat melindunginya hingga
tentang betapa lucu dan katronya penjaga kebun yang bekerja di rumahnya.
Aisyah perlahan mulai
menghentikan laju motornya didepan Pasar Rakyat. Sepertinya ia sangat ingin
bersenang-senang di area permainan kincir angin itu. Kamipun mulai berjalan
beriringan. Sambil berlari kesana kemari mengejar satu sama lain, Aisyah tertawa
dengan bebasnya. Bandola kelinci kecil yang ada di kepalanyapun tak luput dari
bahan candaan yang membuat kami semakin akrab satu samalain. Kurasa, hampir
sebagaian besar wahana yang ada di tmpat itu kami naiki bersama. Ia memang anak
yang menyenangkan. Disaat yang lain, beberapa orang tidak ku kenal terus
mnyapanya dengan sangat ramah. Nyatanya ia memang tidak hanya terkenal
dilingkungan sekolah kami saja, melainkan disekolah lainpun juga. Aku senang
bisa mengenal Aisyah. Kurasa sepertinya aku sangat beruntung bisa menjadi salah
satu sahabatrnya.
Jam demi jam kami lalui
bersama. Saling menjahili satu sama lain, tersenyum sebebasnya dan tertawa
hingga terbahak-bahak. Tanpa kami sadari hari sudah beranjak gelap. Nampak sang
surya sudah kembali beresmbunyi di peraduannya. Aisyah terlihat sangat bahagia
sore itu. Dari kejauhan kulihat ia berlari menuju ke arahku sambil memegang
sesuatu di tangannya. Dipakaikannya padaku gelang persahabatan diantara kami
berdua. Berjanji akan saling menjaga satu sama lain dalam keadaan suka dan
duka. Akhirnya Aisyah hanya tersenyum padaku. Dari kejauhan ku lihat seorang
wanita paruh baya sedang menunggunya di parkiran, kurasa itu adalah ada ibunya
yang datang untuk menjemputnya. Ia meminta maaf karna tidak bisa mengantarkanku
pulang ke rumah. Saat itu kamipun brpisah, sambil tertawa dengan diiringi gelak
candanya, ia melambai-lambaikan tangannya padaku. Akh, sepertinya aku sudah
tidak sabar menantikan sang mentari kembali bersinar esok pagi. Berharap akan
segera mungkin bisa berjumpa dengan sahabat baruku.
Malam itu telepon berdering di
rumahku. Ayah mengangkat telepon dan mengatakan seseorang ingin berbicara
padaku. Telepon yang tak lain berasal dari Rahma sahabat ku dulu. Saat
mengangkat telponnya aku hanya bisa terdiam. Seketika hatiku terasa sesak dan
perih disaat yang bersamaan. Kurasakan sekelilingku terlihat gelap dan sunyi.
Hanya ada suara Rahma yang menggetar ditelingaku. Beberapa kali kulihat ayah
memandangku dengan penuh tanda tanya. Saat itu aku hanya bisa berlari menangis
dan mengunci dengan rapat pintu kamarku. Kurasakan bahwa hatiku sangat sakit
mengingat senyum dan lambaian tangannya di kala sore itu. Andai saja hari ini
aku menolak ajakannya? Andai saja hari aku tidak terlambat, mungkin ia akan
baik-baik saja. Kacau perasaanku saat itu. Pengandaian yang kubuat justru
membuatku semakin sakit dan terguncang menghadapi kenyataan yang ada.
Kepergiannya yang tiba-tiba membuatku tak percaya bahwa aku tidak akan berjumpa
lagi dengannya untuk selamanya. Kuakui aku sedikit kecewa karena belum sempat
membuatnya bahagia di saat-saat terakhir dalam hidupnya. Namun tak bisa
kupungkiri aku akan sangat merindukan sosoknya didalam hidupku saat ini.
Keesokan harinya, Rahma
menjemputku di rumah. Kami berencana untuk menghadiri pemakaman Aisyah di hari
itu. Ku pikir Rahma akan biasa saja mendengar kepergiannya yang tiba-tiba,
nyatanya meskipun persahabatan mereka telah hancur, rasa persaudaraan diantara
keduanya masih seperti sedia kala. Aisyah memang si pembuat onar yang licik.
Setelah dengan mudahnya berhasil masuk kedalam kehidupanku, sekarang ia justru
pergi sesukanya dengan menyisakan kenangan persahabatan yang indah dalam
benakku. Tak bisa ku bendung lagi air mataku menyaksikan kepergiannya. Suasana
haru dan sedih menyelimuti kepergian si anak periang ini. Kuharap ia akan
tenang di alam sana.
Senin pagi, aku berangkat ke
sekolah. Terbilang sudah dua hari sejak kepergian Aisyah dari dalam hidupku.
Udara pepohonan yang sejuk semakin membawa ingatan tentang hari yang kulalui
dengannya saat terkena hukuman dari guru BK. Rahma kembali berbicara padaku.
Disapanya aku yang masih termenung dibawah pohon cemara yang sedang berguguran.
Sesekali ia menggelitikku berharap agar aku bisa melupakan Aisyah untuk
sementara. Kusadari disaat itu, kami hanya berusaha untuk bisa menegarkan
satusama lain. Bagaimanapun Aisyah adalah sahabat kami. Tidak mudah untuk menghilangkan
tokohnya dalam ingatan kami. Ku tengadahkan kepalaku menghadap semesta. Kulihat
awan dengan sendunya memamerkan keindahan warna putihnya di tengah launtan
biru. Ku rasa Aisyah sedang melihat dan melambaikan tangannya padaku dari atas
sana. Ini membuatku tersadar bahwa persahabatanku dengannya bukanlah suatu
kebetulan semata. Semua telah diatur dan dirancang sedemikian rupa oleh –Nya.
Persahabatan yang tergolong sangat singkat yang kami lalui bersama.
Bagaimanapun, meskipun persahabatan ini hanya terjalin dalam sehari, ku rasa
itu sudah cukup mewakili rasa persahabatan yang telah kami bentuk satu sama
lain. Aisyah pada akhirnya walaupun kau telah tiada, kupastikan kau akan tetap
ada didalam lubuk hatiku yang terdalam.
Selesai.
"oleh : Ampe Daryanti / 2020
Komentar
Posting Komentar